Posted in family | Leave a Comment »
Nggak terasa sudah dua bulan aku di rumah. Waktunya kembali ke kantor. Hanif udah gendut sekarang. Mungkin udah 5 kg, aku belum tahu karena belum timbang berat badan dia lagi. Tapi kalau melihat progresnya yang naik 200-300 gram per minggu, harusnya sekarang dia udah 5 kg.
Rasanya berat sekali meninggalkan Hanif di rumah. Bukannya nggak percaya sama Mbak Sur, pengasuhnya. Tapi lebih karena perasaan bersalah nggak bisa bener-bener full ngasuh dia. Apalagi sekarang ASI-ku rada berkurang. Dulu pas awal-awal Hanif lahir, ASI-ku banyak banget, sampai netes-netes. Tapi sekarang nggak gitu lagi, sedihnya. Aku jadi pesimis bisa kasih ASI eksklusif sama Hanif, padahal aku pengen banget. Mungkin, stres karena mau balik kerja ini juga ngaruh ke produksi ASI-ku.
Ditambah, ada rasa cemburu melihat dia digendong dan didekap Mbak Sur. Dulu-dulu dia kan 24 jam selalu sama aku, selalu di sisiku. Sekarang melihat dia bersama orang lain rasanya cemburu banget. Takut kalau nanti dia malah jadi lebih terbiasa sama Mbak Sur. Apalagi Mbak Sur tuh dikit-dikit ambil Hanif dari aku. Yah, aku sih positive thinking aja. Mbak Sur memang digaji buat ngasuh Hanif aja, di luar nyuci dan bersih-bersih yang udah di-handle sama Mbak Nunung. Jadi mungkin dia ngerasa tanggung jawab buat selalu pegang Hanif. Tapi kan nanti aku jadi jauh sama Hanif kalau dia jarang sama aku. Aku takut kalau aku bilang gitu ke Mbak Sur, dikiranya aku nggak percaya sama dia. Serba salah.
Hhhh, banyak ketakutan dan kekhawatiran yang membayangi langkah ini kembali ke kantor. Stres banget. Kemarin aku nangis mikirin semua ini. Ternyata kayak gini to rasanya kena sindrom baby blues. Blue melulu.
Pengen di rumah ajaaaaaa…
Pengen terus sama Haniffff….
Foto: Hanif pas usia 6 hari (kiri) dan usia 48 hari (kanan).
Posted in family | 2 Comments »
Awalnya sih untuk menghadiri acara ngundhuh mantu pernikahan Mas Didik – Mbak Mita. Tapi akhirnya malah sekalian menghabiskan masa cuti melahirkan. Jadilah dari 18 Juli s.d. 10 Agustus aku dan Hanif “mengganggu“ kehidupan Mami, Papi, dan Yesti di Solo
Menyenangkan sekali hari-hari kami di Solo. Jauh dari perasaan sepi dan sendiri yang kulalui di Bandung *ya iyalah, setelah Hanif lahir dan mertua tak lagi menunggui, aku kan cuma luntang-lantung sendirian sama Hanif di Bandung*. Untung aku memutuskan pulang ke Solo.
Sehari-hari Mami, Papi, dan Yesti membantu menggendong-gendong Hanif. Senangnya melihat mereka akrab sama Hanif. Mami dan Papi suka sekali cucunya ini tinggal di Bandung. Hanif dicium-cium terus sama Mami. Kalau Yesti malah lebih intens lagi. Nggak cuma mencium dan gantian menggendong, dia juga terlibat dalam hampir semua kegiatan Hanif: ganti popok, ganti baju, mandi, dll.
Ah, sekarang mereka pasti merasa kehilangan Hanif. Terutama Yesti tuh. Sehari sebelum pisah, nggak henti-hentinya dia mencium Hanif.
Mami, Papi, Yesti… we’ll be back soon. Until we meet again.
Posted in family | Leave a Comment »
Alhamdulillah akhirnya Mas Didik, kakakku tersayang, mengakhiri masa lajangnya juga
Sabtu pagi, 5 Juli 2008, akad nikah berlangsung di kediaman Mbak Mita di Kompleks PRV, Gegerkalong, Bandung. Malamnya, resepsi dilaksanakan di gedung La Veranda, Kompleks PRV. Konsep resepsinya outdoor di pinggir kolam renang. Nice!
Sabtu malam, 19 Juli 2008, diselenggarakan acara ngundhuh mantu di Gedung Wanita, Solo. Gara-gara ini aku bersikeras pulang ke Solo. Nekat juga bawa Hanif perjalanan jauh, mengingat usianya saat itu baru 32 hari.
Mas Didik – Mbak Mita, barakallahu laka wa baraka ’alaika wa jama’a bainakuma fi khair. Lekas kasih ponakan yaaa
Foto: Mereka berdua pas foto-foto prewedding.
Posted in family | Leave a Comment »
Pengen sharing sedikit soal kelahiran Hanif. Alhamdulillah, prosesnya lancar dan terbilang cepat untuk ukuran anak pertama. Hitung aja: aku masuk RS St. Borromeus kira-kira pukul 18.00 dan pada pukul 23.25 Hanif udah lahir. Kurang dari enam jam. Berikut kronologisnya.
16 Juni 2008
10.00-11.00
Aku lagi nonton Oprah Winfrey Show sambil main The Sims 2. Jumat sebelumnya aku udah dapat installer game ini *thanks to Nana*. Karena HPL Hanif masih tanggal 26 Juni, kupikir aku masih punya waktu lumayan banyak untuk menjajal game favoritku ini. Tapi pas aku main, kok kerasa pegel-pegel di punggung belakang dan sedikit sakit perut.
11.00
Aku beranjak ke kasur. Kupikir istirahat akan cukup untuk membuat pegel-pegel itu hilang. Tapi kok makin teratur sakit perutnya. Inikah yang namanya kontraksi? Kulihat jam di HP. Masih 12-14 menit sekali.
12.00
Flek-flek udah muncul. Mulesnya jadi 10 menit sekali. Aku telepon Mas Catur, ngabarin. Dia nanya itu kontraksi beneran atau nggak, kujawab aja nggak tahu. Ya iyalah, kan belum pernah melahirkan.
13.00
Mas Catur telepon. Nanyain masih kontraksi atau nggak. Aku jawab iya. Dia siap-siap berangkat ke Bandung. Aku siap-siap packing barang-barang yang mau dibawa ke rumah sakit.
14.00
Masih sempat nyuci dan mandi. Trus tiduran sambil nunggu Mas Catur datang. Masih santai-santai aja. Kupikir: ah, anak pertama ini, paling-paling pembukaannya lama. Masih males pergi sendiri ke rumah sakit. Nunggu Mas Catur aja. Dia lagi on the way.
16.30
Mas Catur telepon, katanya udah hampir sampai di Padalarang.
17.30
Mas Catur sampai di rumah, naik taksi dari Pasir Koja. Pakaiannya basah kuyup, katanya di Pasir Koja ujan deres. Habis ganti baju, kita berdua berangkat ke rumah sakit.
18.00
Resmi masuk rumah sakit. Mas Catur ngurus registrasi. Aku diperiksa. Baru pembukaan dua. Denyut jantung bayi juga diperiksa. Makan malam diantar ke kamar *laper banget euy*.
19.00
Udah selesai makan malam. Denyut jantung bayi dimonitor tiap jam. Siap-siap melahirkan. Kontraksi udah makin kuat aja.
21.00
Kontraksi makin kuat, makin sering, dan makin sakit. Tiap kali kontraksi datang, aku menggenggam tangan Mas Catur kuat-kuat.
21.30
Sakit banget rasanya. Aku merintih-rintih. Sama suster diperiksa. Udah pembukaan lima. Aku disuruh pindah ke kamar bersalin.
22.30
Hehehe, ternyata aku tuh nggak tahan sakit ya. Tiap kali kontraksi datang, aku teriak. Nggak tahu udah kayak apa tampangku saat itu.
23.00
Sakiiiitttt bangetttt. Udah pengen mengejan terus. Sama suster diperiksa lagi. Udah pembukaan sembilan. Suster manggil dokter. Alat-alat persalinan disiapkan.
23.15
Perjuangan dimulai. Antara sadar dan nggak sadar. Sakitnya nggak tertahankan. Kayaknya ketuban mulai pecah.
23.25
Aku mengejan kuat-kuat. Bagian bawahku terasa panas. Aduh, digunting deh, pikirku *hehehe, masih sempat mikir*. Sampai akhirnya aku denger Mas Catur menyebut hamdalah dua kali. Oh, bayiku udah lahir. Tangis kerasnya segera kedengeran. Proses selanjutnya berlangsung cepat di mataku. Aku kelelahan dan kewalahan mengikuti gerakan-gerakan cepat di sekitarku. Bayiku diperiksa, dibersihkan jalan nafasnya, dilap badannya, diletakkan di atas dadaku, sambil dokter menjahit bagian bawahku *dijahit ini sakit juga, weww*. Mas Catur mengadzani si bayi. Lalu suster ambil kamera, jepret-jepret untuk mengabadikan momen *foto di atas itu salah satu hasil karya sang suster*.
17 Juni 2008
01.30
Semuanya beres. Aku selesai dimandikan. Bayiku dibawa ke kamar bayi. Aku diantar ke kamar rawat inap.
01.45
Sampai di kamar, rasanya pengen tidur. Capek banget. Mas Catur nonton Euro sambil menunggui aku.
Penutup
Semua proses yang telah kujalani bikin aku tambah sayang sama Mami. Kebayang seperti apa dulu perjuangan beliau membawaku lahir ke dunia. Tak lupa mengucap syukur pada Allah, karena tanpa Dia, segala hal tak akan semudah dan selancar ini.
Seminggu pertama Hanif di rumah, Mami datang dari Solo dan membantuku beradaptasi merawat Hanif. Ketika Mami pulang, suara beliau tercekat dan aku tahu beliau berkaca-kaca. Dan seperti biasa, Mami berusaha menutupinya. Belakangan aku tahu dari Yesti kalau sebenarnya beliau nggak tega ninggalin Bandung, ninggalin cucu pertama beliau… Mami sayang, terima kasih atas segalanya. Penghargaan tulusku setinggi-tingginya untukmu. I love you even more and more and more…
Posted in family | 3 Comments »



