Awalnya sih untuk menghadiri acara ngundhuh mantu pernikahan Mas Didik – Mbak Mita. Tapi akhirnya malah sekalian menghabiskan masa cuti melahirkan. Jadilah dari 18 Juli s.d. 10 Agustus aku dan Hanif “mengganggu“ kehidupan Mami, Papi, dan Yesti di Solo
Menyenangkan sekali hari-hari kami di Solo. Jauh dari perasaan sepi dan sendiri yang kulalui di Bandung *ya iyalah, setelah Hanif lahir dan mertua tak lagi menunggui, aku kan cuma luntang-lantung sendirian sama Hanif di Bandung*. Untung aku memutuskan pulang ke Solo.
Sehari-hari Mami, Papi, dan Yesti membantu menggendong-gendong Hanif. Senangnya melihat mereka akrab sama Hanif. Mami dan Papi suka sekali cucunya ini tinggal di Bandung. Hanif dicium-cium terus sama Mami. Kalau Yesti malah lebih intens lagi. Nggak cuma mencium dan gantian menggendong, dia juga terlibat dalam hampir semua kegiatan Hanif: ganti popok, ganti baju, mandi, dll.
Ah, sekarang mereka pasti merasa kehilangan Hanif. Terutama Yesti tuh. Sehari sebelum pisah, nggak henti-hentinya dia mencium Hanif.
Mami, Papi, Yesti… we’ll be back soon. Until we meet again.
